Sunday, April 23, 2017

Kita Tetap Sama

Banyak orang yang berkata ibukota sedang perang agama.
Banyak orang yang bilang kaum minoritas tidak lagi aman disini.
Banyak orang menulis tentang agamanya sendiri.
Tiga hal diatas adalah postingan yang paling sering muncul di sosial media saya.

Tapi bagi saya, itu semua semu.
Saya tumbuh dari keluarga lingkungan yang kaya akan agama, hingga saat ini saya masih bisa merasakan kasih sayang tanpa memandang agama setiap saya pulang ke rumah nenek saya.
Tolong menolong antar manusia selalu terjalin di lingkungan hidup saya.

Sebagai contoh,
Hari ini hari Minggu, salah satu mantan tetangga nenek saya (sekarang rumahnya sudah pindah ke Timur ibukota) melangsungkan pernikahan anak ketiganya di gereja depan komplek rumah.
Saya dan nenek sudah menelpon duluan pengurus gereja dan pastor (nomernya tertera di undangan) untuk menanyakan rangkaian acaranya, karena memang sebagai muslim saya tidak dibolehkan untuk tidak ikut beribadah di tempat ibadah agama lain.

Sekitar pukul 09.45 WIB kami berjalan menuju gereja itu, acara baru saja selesai dan rangkaian terakhir hanya foto-foto dan pelepasan merpati.
Begitu masuk gereja satu yang saya kagumi, di dalam gereja tidak hanya pemeluk agama tersebut saja, namun juga banyak tetangga saya yang muslim ikut hadir dan ingin memberi selamat kepada kedua mempelai serta keluarga.

Perasaan haru membawa saya ketika melihat tetangga saya saling hadir menemani temannya, ada yang bercerita tentang lampau ada pula yang mulai bercerita tentang banyak cucu (maklum nenek sama kakek yang datang). Bahkan pemberkatan anak tetangga saya ini, dibantu penjagaannya oleh keamanan setempat serta para ahli agama. Melihat kejadian langka itu menyadarkan saya, Jakarta bukanlah tempat permusuhan beda agama, tapi Jakarta adalah Indonesia dimana semua agama itu memiliki haknya sendiri. Dimana setiap orang yang hidup dapat memilih kehidupannya sendiri.

Kita tetap sama. Kita tetap Indonesia. Mungkin kita mengira kita berubah tapi cobalah lihat kembali ke dalam hati masing-masing, yakinkah kamu berubah? Atau kamu hanya terbawa suasana? Ibukota Indonesia yang tau saat ini masih sama dengan Ibukota dimana saya tumbuh. Ibukota dimana setiap pilkada mulai bermunculan isu-isu pemecahan, kebetulan saja tahun ini tentang agama.

Tapi kawan, cobalah kembali melihat sekitarmu, kalau kamu minoritas ada berapa orang mayoritas yang melakukan hal baik untukmu? Kalau kamu mayoritas ada berapa orang minoritas yang melakukan hal baik untukmu? Apakah perbandingannya besar? Kalau iya, berarti kamu telah membuktikan pada dirimu Indonesia tetap sama dengan saat kemerdekaan dideklarasikan. Tanpa pandang bulu, agama, suku, ras, dan kepentingan, kita pasti akan bersatu demi satu tujuan yaitu Indonesia. Kalau jawabannya tidak, cobalah kamu kembali renungkan sudah seberapa banyak kamu mengenal sekitarmu?
Post a Comment