Friday, April 21, 2017

Kartini dan Cahayanya.

Derap-derap kecil berlari di sekitar sekolah
Satu persatu langkah kecil itu memeriksa dirinya
Ada yang mencari Ayah Ibunya
Ada yang mencari temannya
Ada pula yang mencari gurunya

Gegap gempita suara menyambut datangnya siswa-siswi
Guru dan siswanya semua berpakaian warna warni
Ada yang memakai baju adat
Ada yang memakai baju profesi
Ada juga yang memakai baju superheronya

Hari ini, seperti biasa saya berlari mengitari kompleks salah satu sekolah abdi negara kita. Ya, ini rutinitas baru. Kegiatan saya ini terhenti ketika melihat salah satu anak usia dini berjalan bersama Ibunya tanpa memakai baju. Terlihat Ibunya menenteng tas si anak dan sebuah keranjang, sedangkan anaknya membawa sepasang sepatu katak. Saya langsung memperlambat lari saya dan berjalan pelan, saya ikuti Ibu dan anak ini hingga sang anak masuk ke gerbang TK di komplek tersebut dan si Ibu menitipkan tas anaknya pada sang Guru. Sang Ibu dengan setia menunggui anaknya di pintu sambil menawarkan jualannya pada Bapak dan Ibu abdi negara yang lalu lalang hendak masuk kelas atau mungkin hendak kerja. 

Saya pun meneruskan aktifitas saya dan kembali berakhir di taman kanak-kanak tersebut, si Ibu masih setia menunggui anaknya bersama beberapa Ibu dan asisten rumah tangga lainnya. Perlahan terdengar suara anak kecil membuka acara pada hari itu. Seketika saya teringat, hari ini adalah hari lahirnya Ibu dari setiap perempuan di Indonesia kini, Ibu Raden Ajeng Kartini. 

Satu demi satu saya tonton adik-adik balita ini menampilkan karyanya, ada yang berdrama, ada yang menari, ada yang menyanyi dan ada yang membaca puisi. Saya paling tertarik dengan hal seperti ini, perlahan saya dekati petugas keamanan di TK tersebut dan meminta izin untuk masuk (kebetulan kenal hehe). Saya tonton penampilan mereka hingga saya lihat anak kecil tanpa baju tadi sedang bermain menyusun balok sendirian sambil menunggu bagian namanya dipanggil. Ketika hendak menghampiri, tiba-tiba nama anak tersebut dipanggil oleh temannya untuk siap siap maju ke panggung. Saya lihat dia dengan semangat segera berbaris di barisan siswa-siswi yang sedang memakai baju profesi. Saya perhatikan hanya dia yang beda sendiri, teman-temannya semuanya mengenakan baju yang dapat kita tebak, ada yang polisi, tentara, dokter, guru dan lainnya. Satu persatu teman-temannya maju ke depan dan ditanyai oleh sekelompok juri kontes tersebut.

"Ahmad, ini baju apa?"
"Ini baju kesukaan saya Bu, ini hadiah dari Ayah dan Ibu"
"Apa cita-cita kamu Ahmad?"
"Perenang. Bu"
"Ahmad, kenapa kamu ingin jadi perenang?"
"Saya ingin menjadi perenang, karena saya ingin membanggakan Ayah dan Ibu saya, Bu"
"Wah mulia sekali"
"Maaf Bu, saya ingin berpuisi"

Semua guru di lapangan saling berpandangan dan mempersilahkan anak itu berpuisi. Anak itu berpuisi tentang Ayah dan Ibunya, tentang bagaimana Ayah dan Ibunya berusaha menyekolahkannya hingga dia cuma tinggal dengan Ibunya karena Ayahnya pergi kerja. Saya yang ada disana rasanya dapat merasakan kesedihan dan haru dari puisi dia, selepas dia turun, saya segera keluar dan menghampiri Ibunya. Saya sempatkan berkenalan dan membeli beberapa dagangan Ibunya. Saya pun sedikit mengobrol dengan Ibunya. Beliau adalah Ibu yang sayang menyayangi anaknya, suaminya telah lama meninggal saat Ahmad masih bayi, namun sang Ibu selalu mengatakan Ayahnya sedang pergi kerja karena Ahmad terus menanyakannya ketika telah mulai masuk sekolah. Ibunya pun berkata, baju yang dipakai Ahmad adalah baju pertama yang dia belikan di pusat pembelanjaan. Beliau terus bercerita bagaimana Beliau tidak pernah merasa letih untuk membahagiakan anaknya.

Perjuangan Ibu tersebut adalah salah satu perjuangan perempuan terindah yang saya dengar langsung. Sebelum saya pulang tadi, Beliau hanya berpesan dan berharap semoga anak muda seperti saya dapat memajukan perempuan Indonesia seperti Ibu Kartini dulu. Beliau memang kodratnya berada dibawah suaminya kelak, namun perempuan juga harus bisa mandiri dan pintar karena perempuanlah yang akan menjadi penyatu dalam keluarga. Perempuanlah yang bisa mengerti apa yang diinginkan suami dan anaknya sekaligus terkadang bahkan tanpa perlu bertanya.

Untuk para perempuan Indonesia di luar sana, tetaplah menjadi tangguh, dan bergerak maju demi dirimu, keluarga, calon suami dan anakmu kelak. Percayalah, kita adalah tonggak pertama Ibu Pertiwi. Tanah air ini ada karena perempuannya yang tangguh, perempuan-perempuan yang siap sedia menjadi penolong ksatria bangsa di medan perang, di lingkungannya dan di kerajaannya sendiri.

Untuk para laki-laki tampan di luar sana, tetaplah jaga perempuanmu, jaga dia seperti kamu menjaga hidupmu karena hanya dari makhluk bernama perempuan inilah kamu dan keturunanmu ada. Apabila kelak kau sakiti perempuanmu, pikirkanlah kembali karena sakitnya bukan untuknya namun semua akan berbalik padamu, karena kamu lahir dari suatu rumah yang disebut rahim perempuan.

Selamat ulang tahun ke-138.
Terima kasih Eyang Kartini.
Semoga Eyang selalu bahagia disisi-Nya.
Post a Comment