Tuesday, June 25, 2013

Terima Kasih Untukmu



       Kebahagiaanku terasa lengkap, saat hubunganku dengan kekasihku, Jene, menginjak usia yang ketiga. Ya, tepat hari ini usia hubungan kami genap 3 tahun, kami pun berencana merayakannya dengan dinner di café dimana kami pertama bertemu dulu. Malam nanti, kami juga berencana mengenakan pakaian yang serasi. Hari ini akan menjadi hari paling spesial dalam hidupku, jujur baru dengan Jene, aku bisa awet berpacaran hingga 3 tahun, biasanya baru bberapa bulan, hubunganku selalu kandas, bahkan pernah baru pacaran 1 minggu aku minta putus lantaran aku tak betah.

       Malam ini, aku ingin membuat Jene merasa menjadi Ratu Semalam. Tepat pukul 19.00 WIB, aku datang menjemputnya. Dia yang sepertinya sudah menunggu pun langsung menghambur ke luar rumah dan masuk ke mobil kesayanganku, BMW Spyder. Dalam perjalanan menuju cafe, kami  bercerita tentang masa lalu kami. Sungguh menyenangkan berada di samping Jene, ada rasa nyaman dan ingin selalu melindunginya. Tak henti-hentinya kami tertawa, saat kami mengingat masa-masa awal aku dan dia menjalin hubungan ini di masa SMA dahulu. Ya, dua tahun lalu, saat kami masih duduk di bangku kelas XII SMA.

       Tepat pukul setengah delapan, aku menepikan mobilku di cafe kesayangan kami, Pandora Cafe. Kami pun memasuki cafe dengan bergandengan tangan dan berjalan menuju meja yang sudah kupesan sejak semalam khusus untuk acara dinner kita malam ini. Aku menata dua buah lilin beraroma terapi yang dapat membuat perasaanku tenang. Aku juga sudah memesankan makanan kesukaan kami berdua. Tak lupa aku juga meminta suasana yang sangat romantis kepada pemilik cafe. Sehingga disaat kami pun mulai memakan hidangan yang ada, terdengar suara petikan gitar accoustic dan suara merdu penyanyi wanita yang sedang ber-mini konser di café tersebut.

"Gimana sayang, kamu suka?"tanyaku kepadanya
"Kamu romantis sekali malam ini. Terimakasih sayang"
“Jen, sebenarnya aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
“Hmm, ngomong aja, Marioku” jawabnya sambil mengenggam tanganku
“Sekarang kan kita udah dewasa, 20 tahun menurutku usia yang cukup untuk kita menjalin suatu hubungan yang serius, Jene”ujarku sambil menatap matanya.
“Ya, memang kita sudah dewasa, dan kita juga sudah menjalani hubungan ini dengan serius, Yo”
“Bukan, bukan itu maksudku. Yang aku maksud adalah, mengapa kita tidak meresmikan hubungan kita ini ke jenjang yang lebih serius?”
“Maksud kamu married? Haha aku belum siap buat married, Yo. Aku akan menikah setelah aku menikmati uang hasil jerih payahku bekerja” katanya polos
“Hahaha.. siapa yang mau married sekarang sih, Jene sayang? Aku masih mau namatin kuliah aku dulu lah. Lagipula maksud aku, gimana kalau kita meresmikan hubungan kita ini dengan bertunangan, supaya keluarga kita tahu kalau kita ini memang benar-benar serius dalam menjalin hubungan ini” jawabku dengan perasaan was-was. Takut seandainya dia menolak.
“Hahaha! Kalau masalah bertunangan, aku harus merundingkan ini dulu dengan Ibu dan Ayah. Kalau keluargaku setuju, barulah kau boleh melamarku menjadi tunanganmu” jawabnya sambil menatapku dan mempererat genggaman tangan kiri kami di atas meja.

      Tak terasa waktu berlalu sangat cepat, malam itu jam seakan berputar lebih cepta. Aku pun tidak ingin membuat orangtua gadisku ini khawatir, sehingga kami memutuskan untuk bergegas pulang. Aku meminta Jene untuk menunggu aku di halaman depan cafe, sementara aku mengambil mobil.

      Saat Jene sedang menunggu Mario mengambil mobil di parkiran, dia menabrak seorang laki-laki dan membuat tubuhnya oleng sehingga dia terjatuh. Untung saja orang yang ditabraknya sempat menolongnya dengan memegang kedua bahunya sehingga dia tidak terjatuh di lantai keramik cafe tersebut.
“Aduh maaf banget ya, Mas. Saya nggak sengaja. Maaf ya, maaf” katanya setelah aku menyadari kesalahannya dan merapikan dress yang dipakainya malam itu.
“Iya saya tidak apa apa kok.”ujar laki-laki tersebut, lalu ia menatap Jene sesaat, “wait, are you Jene? Jennifer Nellyce?”katanya lagi, lebih tepatnya sih berseru
“Iya, saya Jene. Maaf kok Anda tau nama saya? Apakah kita pernah bertemu?”jawab Jene sambil memperhatikan wajah lawan bicaranya saat itu.
“Oh my god!! Jen, its me!! Jason!! Antonyo Jason Soebrata. Are you forget me?” katanya yang kemudian terpoting dengan kehadiranku yang turun dari mobil dan meghampiti Jene.
“Kenapa Jen? Kamu kenal dengan orang ini?” kata Mario saat melihat Jene bersama Jason.
“Eh, iya, Yo. Kenalin, ini Jason temen SMP aku waktu di Australia dulu. Jason kenalin, ini Mario, pacarku” kata sambil tersenyum dan mencoba menggenggam tanganku.
“Senang bertemu kamu, Mario. Aku teman lama Jene”ujar Jason sambil mengulurkan tangannya.
“Ya, sama-sama. Salam kenal, aku Mario. Mario Dewa Soekarta, pacar Jene” kataku sambil menyambut uluran tangannya.
“Yaudah, aku pulang duluan ya. Sudah malam. Ayo sayang”ucap Jene sambil menuju pintu mobilku.
“Tunggu, Jen! Bisakah aku mendapatkan nomor kamu?”sergah Jason dan Jene pun langsung membuka clutch-nya dan mengeluarkan kertas beserta pensil lalu menuliskan nomer handphone nya disana.
“Thank you, jen! Nice to meet both of you” teriaknya saat kami menjauh
“Nice to meet you too”jawabku, sedangkan Jene terlihat memberikan senyuman terpaksa di bibirnya.

--- Jene's POV---
       Sungguh aku tidak menyangka, diakah Jason? Cinta pertamaku? Untuk apa dia hadir lagi di kehidupanku saat aku sudah memiliki Mario di hatiku? Kemana dia dulu? Saat aku membutuhkanya, dia malah pergi meninggalkanku, hingga akhirnya kuputuskan untuk pindah ke Bandung. Ingin rasanya hati ini berteriak, ya, aku menyesal sekarang. Kenapa dulu Jason meninggalkanku tanpa alasan, namun kini dia kembali tanpa kuundang? Cerita kini sudah berbeda, ya aku memang masih merasakan getaran cinta antara aku dan Jason, namun aku juga mencintai pacarku sekarang, Mario. Aku tidak akan bisa memilih satu diantara keduanya.

“Neng, udah sampai nih. Mau ngelamun sampai kapan?”tanya Mario yang membuyarkan lamunanku
“Ah, apa yang kulakukan tadi? Tio maaf ya, aku lagi nggak enak badan. Mungkin kurang istirahat”sangkalku dan menatap matanya yang selalu membuat aku merasa terlindungi.
“Iya, enggak apa-apa kok. Yaudah, sekarang kamu masuk, terus istirahat yang cukup ya? Muka kamu pucat tuh. Jangan lupa langsung tidur ya”katanya sambil tersenyum dan turun untuk membuka pintu mobilnya untukku.
“Makasih ya untuk malam ini. Happy anniversary, sayang” kataku lalu mencium pipinya dan menerima genggaman tangan yang membantuku keluar dari mobil.
“Happy anniversary too, my dear”jawabnya sambil tersenyum lebar saat aku sudah memasuki pagar rumahku. Aku pun masuk ke rumah dan menuju kamarku. Aku pun langsung terlelap dalam tidurku yang nyenyak.

       Paginya, aku seperti dibangunkan oleh deringan handphone-ku. Aku mengira itu telepon dari Mario, tapi ternyata itu telepon dari nomor tak dikenal, dan aku mengangkatnya.
“Halo, siapa ini” kataku
“Hai, Jen!! It's me, Jason. Can we meet today? I want to talk with you”jawab suara diujung sana.
“Where?”sahutku
“At Lasagna Cafe maybe? At 11 am, okay? See ya!”jawab Jason lalu menutup telepon.

       Celaka!! Kenapa tadi aku menyetujuinya? Aku tak tahu harus bagaimana, aku tidak punya pilihan lain selain menuruti undangan Jason. Aku pun bergegas mandi dan menyiapkan diriku. Sebentar lagi sudah jam 9.30, dan aku harus bergegas pergi untuk menemui Jason.

       Sesampainya di Lasagna Cafe, jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10.15, gawat! Aku telat!! Aku pun bergegas masuk ke dalam dan mencari meja nomor 29. Ya, di sana! Aku melihatnya, di sana ada seseorang yang berpakaian putih polos dengan celana jeans. Aku pun menarik nafas panjang dan menghampirinya.

“Sorry, I late! Waktu kamu telepon tadi aku baru bangun”kataku setelah aku duduk sambil memanggil pelayan cafe.
“Not problems, always since we meet allright? Hahaha. Kan kamu juga tau kalo aku selalu sabar menunggu kamu.” Jawab Mark.
"Matilah aku! Kenapa dia masih mengingat itu semua. Apa yang dia pikirkan sekarang? Apa dia berniat untuk.."batin Jene bergemuruh.
“Jangan tegang, Jen! Aku kesini cuma ingin mengajak kamu jadian lagi denganku. Kamu tau kan sebenarnya kita tidak pernah ada kata putus. Ya, aku tau aku salah. Namun aku akan memperbaiki kesalahan itu. Aku berjanji. Maukah kamu?"katanya panjang lebar sambil menatap kedua mataku.

       Sempat ku lihat tatapan Jason dikala dia menatapku. Tatapan itu, tatapan yang sama seperti saat dia menatapku dahulu. Tatapan penuh kasih. Aku tak tahu lagi apa yang harus ku katakan pada Jason. Selama beberapa menit, kami hanya memandang satu sama lain. Hingga terdengar suara handphoneku yang menandakan adanya panggilan masuk. Kami pun menghentikan acara pandang-memandang kami. Ku lihat nama Mario tercetak jelas di layar handphone ku. Aku pun mengangkatnya.

“Walaikumsalam, Mario? Kenapa sayang?”tanyaku
“Kamu lagi dimana sih, Jen? Aku baru saja dari rumahmu, kata Ibu kamu sudah pergi dari pagi”jawab suara Mario yang terdengar cemas di seberang sana
“Iya, ini aku lagi pergi bareng temen aku sebentar, 15 menit lagi aku akan pulang kok. Kamu tunggu aku dirumah ya”kataku.
"Okay. See you, darl. I love you!"
"I love you too"sahutku dengan senyum dan langsung menutup panggilan itu. Aku kembali melirik Jason yang masih menatapku penuh harap. “Sorry, jason. I must go now. I have a schedule with my boyfriend”ucapku tegas pada Jason.
“Okay, but before you go. Can I know something? Why you eschew from me? Did I hurt you, Jen?”katanya kembali
“No! Don't judge like that. I really must go now. Sorry”jawabku sambil menenteng tasku dan berdiri untuk segera meninggalkan cafe tersebut.

       Jason mendekatiku, menarik lenganku dan menggenggeam kedua tanganku dengan erat. Ia pun menatap mataku dengan tatapannya yang masih terasa sama seperti dulu. “Do you know, Jen? I always love you. Always”katanya. Wajah mendekat, bibirnya mendekati bibirku dan tanpa sadar kami berdua sudah pun berciuman. Kami berciuman cukup lama, sekitar lima menitan. Tiba-tiba aku teringat Mario, kekasihku. Aku segera sadar dengan apa yang aku lakukan ini. Aku tau ini salah, sangat salah. Malah mungkin termasuk pengkhiatan. Aku menghentikan segalanya lalu berlari keluar cafe dan masuk ke dalam mobilku. Jason sempat menahanku, namun aku tidak menggubrisnya. Aku terus berjalan keluar dan pergi dengan Toyota yaris hitamku.

---Jene's POV end---

       Sebuah mobil toyota dengan modifikasi modern menepi di sebuah rumah dengan tipe minimalis dan elegan. Seorang pria tampak duduk di halaman rumah tersebut. Tampak seseorang turun dari mobil tersebut. Ia memakai rok pendek hitam yang terlihat kasual karena dipadu dengan sebuah hoodie hijau muda dan sepatu kets keluaran terbaru Adidas. Pria itu langsung mengajak wanita tersebut masuk ke dalam mobil BMW miliknya. Entah, kemana tujuan mereka, si wanita pun tak tau. SI wanita hanya duduk termangu di bangku sebelah pria yang sudah menjadi kekasihnya tanpa berkata satu patah kata pun.

       Mobil menepi setelah menempuh perjalanan macetnya ibukota provinsi Jawa Barat di saat akhir minggu seperti ini. Wanita itu sempat terkejut saat ia tau akan kemana mereka sebenarnya. Mario menjalankan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya. Ia pun mulai bertanya untuk apa ia berada di sini.

“Mau apa kita ke rumah kamu, Yo?”tanya Jene saat Mario membukakan pintu mobil untuknya.
“Aku pingin bilang ke orang tuaku, kalau kita memang benar-benar serius menjalani hubungan ini” jawab Mario tenang.
“What? Kamu bahkan tidak membicarakan ini padaku sebelumnya”ucap Jene terkejut.
“Sorry? Apa kita membuat kesepakatan? Apa aku harus selalu bicara sama kamu sebelum aku…”

Tiba-tiba...

"Hi Jene! You got a call" sebuah suara dari handphoneku berbunyi. Terlihat nama Jason di layar, Jene pun permisi kepada Mario dan menyingkir ke dalam mobil lalu mengangkat telefon tersebut.

“Ya? What happen?”terdengar suara Jene mengangkat telefon.
“Kamu berantem sama Tio? Sudahlah tinggalkan saja dia, kembalilah kepadaku, aku janji aku bakal buat kamu bahagia. Aku bahkan sudah bicara pada orangtuamu di Jakarta bahwa aku serius dan akan menikahimu akhir tahun ini”sahut Jason santai dengan nada yang menurut Jene sangat merendahkannya.
“What? What are you talking about? Are you crazy? Perasaanku memang masih ada untukmu. But, trust me! I never leave Mario for you. Kamu pengacau, ham! Kamu bahkan tidak benar-benar ada saat aku membutuhkanmu di saat itu! Kamu lebih memilih meninggalkanku dan pergi bersama Leona! Sorry, you not my type again. You are just my past. You was die at that night!”ucap Jene sesegukan. Ia pun terdengar emosi di akhir pembicaraan tersebut. Kedua tangannya segera mematikan telefon dan badannya segera keluar dari mobil lalu memeluk Mario yang tetap menungguku sambil mendengarkan lagu.

“Hiks.. Hiks.. Maafkan aku, Mario. Maafkan aku. Hiks.. Hiks..”kata si wanita itu sambil menangis sesegukan di dalam pelukan kekasihnya, Mario yang menghangatkan.
“Maaf? Untuk apa sayang?”jawab sang kekasih sambil mengelus rambut kekasihnya.
“Maaf karena aku masih tidak dapat melupakan Jason seutuhnya. Maaf karena aku telah mendustaimu, membohongimu. Maaf bila aku membuatmu terluka. Maaf karena aku mencintai dirimu dan Jason”jawab Jene pelan.
“Sudahlah, aku tau bagaimana perasaan kamu, Jeneku. Aku mengerti dan aku paham betul perasaan kamu. Aku yakin kamu akan memilih aku. Aku yakin kamu akan bisa melupakan Jason jika kamu mau serius denganku kali ini”ujarnya sambil mengusap kedua punggung gadisnya, wanitanya.
“Maafkan aku. Sekali lagi aku minta maaf, Yo. Aku janji akan melupakan Jason, karena bagiku kamulah yang terbaik. Namun aku butuh kamu untuk membantu aku”jawab Jene terisak
“Sure. I will help you, my darling. Aku akan selalu ada di sisimu, Jene. You know who I am”jawabnya sambil menghapus air mata yang mengalir dari kedua mata Jene yang telah membutakan mata hatinya.

       Mereka berdua melangkah perlahan memasuki ke rumah kedua orangtua Mario untuk menemui keluarga Mario. Keluarga Mario sangat bahagia ketika Jene datang dan berkata mereka akan bertunangan dua bulan lagi. Mereka membuat Jene tertawa dan tak henti-hentinya tersenyum hingga membuatnya melupakan masalah Jason serta mengikis perasaanya untuk lelaki di masa lalunya itu. Jene pun sempat menelepon kedua orang tuanya dan meminta mereka datang ke Bandung untuk membicarakan pertunangan Jene dan Mario. Awalnya kedua orangtuanya memang terkejut karena Jason sempat meminang putri tunggalnya ini. Namun kedua orang tua Jene percaya pilihan anaknya pasti yang terbaik sehingga merekapun berencana akan ke Bandung lusa harinya. Perlahan tapi pasti, Jene mulai bisa melupakan Jason dan semakin yakin akan hatinya untuk Mario dan keinginannya untuk mengakhiri masa gadisnya dengan menikah bersama kekasihnya yang selalu berdiri di sampingnya.

       Lusa harinya orang tua Jene segera berkunjung ke rumah Jene dan meminta anaknya mememani mereka ke rumah calon besan. Kedua keluarga besar tersebut telah sepakat untuk meresmikan hubungan kedua anak mereka.

       Kebahagiaan dalam hidup Jene pun bertambah, matanya perlahan terbuka mengingat ia pernah mendustai Mario namun kekasihnya itu masih tetap berada di sisiku, bahkan setia menemaninya di dalam suka maupun dukaku.

       Bagaimana dengan Jason? Kabar terakhir yang kudengar, ia kembali ke Australia dan dekat kembali dengan Leona. Bahkan kabarnya mereka akan segera menikah karena ternyata Leona telah berbadan dua semenjak Jason menjadi lelaki pilihan kedua orang tuanya. Ya, cinta dua hati yang sangat membingungkan. Namun pada akhirnya Jene memutuskan dan memilih mengakhiri usianya untuk menemani Mario, calon suaminya.

Qute by @BlueRanisa


Post a Comment