Friday, November 30, 2012

Papa: Sorry :(


    Aldi terlahir dari keluarga yang kaya raya dan mempunyai aturan yang ketat. Setiap hari dia disuruh les, syuting striping, latihan vocal dan juga korea dan tentunya sekolah. Aldi juga tergabung dalam sebuah boyband yang beranggotakan ketiga temannya, Iqbal, Kiki, dan Bastian. Mereka bernama Coboy Junior. Aldi tidak pernah lagi merasakan yang namanya kasih sayang semenjak kepergian mamanya beberapa tahun silam. Dulu waktu mamanya masih hidup, mama papa selalu memberi kasih sayang penuh kepada Aldi. Tapi semua benar-benar berubah setelah mama dipanggil Tuhan, papa berubah, papa selalu melarang Aldi ini dan itu serta meminta Aldi melakukan ini dan itu.
   
     Dulu waktu mamanya masih hidup Aldi hanya les di satu tempat les saja, latihan vocal dan koreo bareng Coboy Junior hanya 2 jam saja, dan syuting antara 2-3 jam sehari tidak lebih. Setelah mamanya meninggal, jadwalnya Aldi itu padat sekali. Jam 7 pagi – 2 siang Sekolah, Jam 2 siang – 3 siang Les Inggris, Jam 3 siang – 4 sore Les Jepang, Jam 4 sore – 5 sore Les Musik, Jam 5 sore – 6 malam Les IPA, Jam 6 malam – 8 malam Latihan Vocal & Koreo bareng Coboy Junior, Jam 8 malam – 4 pagi Syuting Sinetron, Jam 4 pagi – 6 pagi Tidur, dan Jam 6 pagi – 7 pagi berangkat sekolah. HP nya pun disita oleh papanya, padahal itu HP kesayangan Aldi dan HP itu juga adalah hadiah ulang tahun dari mamanya sewaktu mamanya masih hidup.

“ALDI?? Ini sudah jam berapa?? Jam 14.45, Papa rugi tahu sama les kamu. Kamu selalu saja telat jika pulang sekolah. Sana kamu mandi, terus ganti baju, terus makan. Habis itu pergi ke tempat les. CEPAT” Kata Papanya ketika mereka baru sampai rumah.
“Iya, pa” Jawab Aldi dengan lesu.
“Jalannya yang cepat ALDI, Jangan lambat begitu” Teriak Papanya.
“I....Iya, pa” Jawab Aldi sambil berlari.

     Aldi pun segera berlari kekamarnya ketika papanya berteriak, lalu bergegas mandi dan memakai baju dengan terburu – buru. Makan pun dengan terburu – buru hanya demi tidak mau dapat Marah dari Papanya. Setelah itu Aldi pergi ke tempat les dan tentunya di antar oleh Papanya dan Tentunya Papanya selalu menunggunya sampai selesai.

“Belajarnya yang benar. Jangan sampai papa sia – sia mendaftarkan kamu di tempat les ini” Teriak Papanya.
“Iya, pa” Jawab Aldi dengan tampang lesu.

     Dan selama pelajaran Aldi pun tidak konsen, karena Aldi terlalu cape. Gurunya pun menegurnya beberapa kali. Memang tidak ada yang tahu tentang jadwalnya setiap harinya kecuali Aldi sendiri dan juga Papanya tentunya.

“Sudah selesai kamu lesnya?” Tanya Papanya
“Sudah, pa” Jawab Aldi.
“Cepat naik ke mobil, kita segera pergi ke tempat les musik” Gertak papanya
“I..Iya, pa” Jawab Aldi.

Lalu mereka pun bergegas pergi ke tempat les musik. Dimana Aldi biasa les.
“Belajar yang benar. Jangan sampai papa sia – sia mendaftarkan kamu di tempat les sebagus ini” Bentak papanya.
“I...Iya, pa” Jawab Aldi.
“Aldi, kamu kenapa?? Mukamu kok pucat?” Tanya Ify ketika Aldi sudah berada di dalam kelas.
“Aku gak papa, kok. Gak usah khawatirin aku” Jawab Aldi.
“Beneran, di?” Tanya Shilla
“Beneran” Jawab Aldi.

    Hari itu Aldi merasa capek sekali, ingin rasanya ia beristirahat. Tapi papanya melarangnya, apalagi papanya selalu mengantarkan dan menungguinya kemana pun ia pergi.

Tiba – Tiba...
BRUUUK....
“Aldi...”
“Aldi, kamu kenapa”
“Aldi, sadar, Aldi”
“Bangun, di, bangun”

     Samar – samar Aldi mendengar teriakan – teriakan teman – temannya yang sangat panik dan khawatir terhadapnya, tapi lama – lama teriakan – teriakan itu makin lama makin menghilang dan semuanya gelap.

     Teman – teman Aldi pun sangat panik dan khawatir sama keadaan Aldi, guru – guru di tempat lesnya pun sama khawatirnya. Teman – teman Aldi pun tahu selama ini Aldi selalu ditungguin sama papanya jika les, jadi teman – temannya memberi tahu papanya jika Aldi pingsan. Dan papanya kelihatan marah sekali mengetahui Aldi pingsan, karena sudah membuat dia Rugi karena pingsan di tempat les dan dia pun tidak tahu Aldi akan siuman kapan. Setelah itu papanya membawa Aldi pulang.

    Lalu sesampainya diruah, Aldi dibaringkannya di tempat tidurnya, lalu dengan tidak ikhlas dan juga marah – marah ia mengompres dahi Aldi yang panas.

Lalu sekitar jam 20.00 pun akhirnya Aldi pun siuman dari pingsannya.
“Ini dimana?” Tanya Aldi dengan lemas.
“Ini dikamarmu sendiri. Dari tadi kamu pingsan tidak sadarkan diri. Dan kamu tahu ini sudah jam berapa? Ini Jam 20.00, papa rugi sama les – les kamu. Sekarang cepat ganti baju karena dari tadi sutradara sudah menelpom papa terus” Bentak papanya.
“I...Iya, pa” Kata Aldi masih dengan lemas.

    Lalu setelah itu papanya mengantar Aldi ke lokasi syuting, bahkan papanya pun sampai nungguin Aldi sampe syuting selesai, yaitu dari jam 8 malam – 4 pagi. Selama syuting Aldi melakukannya dengan baik, walaupun Aldi masih merasa pusing dan mual, tapi ditahannya.

Dan setelah itu pun Aldi dan papanya pun segera pulang ke rumah.
“Pa, Aldi pusing, pa. Dari tadi juga Aldi pengen muntah terus” Kata Aldi kepada papanya ketika diperjalanan.
“Jangan manja kamu. Palingan itu alasan kamu supaya besok kamu nggak sekolah, nggak les, nggak latihan bareng coboy junior, dan juga nggak syuting, kan? Papa itu Rugi, ALDI” Bentak papanya.
“Tapi, pa” Kata Aldi
“Nggak ada tapi – tapian” Bentak papanya.

     Setelah kejadian itu pun Aldi hanya bisa berdiam diri sampai akhirnya mereka pun sampai dirumah. sesampainya dirumah Aldi pun langsung nyelonong masuk, dan juga langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur. Tapi ketika Aldi hendak tidur tiba – tiba semuanya gelap.

Keesokan harinya.
“ALDI BANGUN. Ini sudah jam berapa? Ini sudah jam 06.45. sebentar lagi kamu masuk. Cepat mandi” Bentak papanya, ketika ia memasuki kamar Aldi.

     Karena Aldi tidak mau bangun – bangun dan papanya pun heran karena melihat Aldi yang tidurnya sampai berkeringan nafasnyapun memburu – buru turun – naik begitu. Akhirnya ia pun mengecek suhu badan Aldi. Dan dia pun kaget karena Aldi demam tinggi. Dan akhirnya ia pun memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Aldi. Dan setelah Aldi diperiksa, Dokter itu pun berbicara kepada papanya.
“Pak, kondisi anak anda sudah sangat drop sekali” Kata Dokter
“Lho? Memangnya anak saya sakit apa?” Tanya Papanya Aldi
“Anak anda sakit typus, maghnya sudah kronis. Memangnya tidak ada tanda – tandanya yang dialami oleh anak anda?” Kata Dokter
“Kemarin sih anak saya sempat pingsan di tempat les dan juga sempat ngeluh. Saya juga menjadwalkan jadwal yang sangat padat. Sampai – sampai dia hanya tidur 2 jam dalam sehari” Kata Papanya Aldi.
“Nah, itu dia yang membuatnya sangat drop. Anak anda sangat kecapekan. Kurangilah jadwalnya. Istirahat juga perlu, lho buatnya” Kata Dokter
“Makasih, dok” Kata Papanya
“Ini saya kasih resep obat, segera di tebus, ya” Kata Dokter
“Iya, dok” Kata Papanya

     Setelah itu ia menyuruh pembantunya untuk memasakkan bubur dan teh anget untuk Aldi, sementara dia menebus obat untuk Aldi. Dan tak lama kemudian dia sudah kembali dengan menenteng obat yang tadi ia tebus.

     Papanya pun terus menerus mengompres dahi Aldi dan Papanya pun sangat menyesal atas apa yang telah ia perbuat selama ini kepada Aldi. Dan sampai saat ini jam sudah menunjukkan pukul 14.00 Aldi pun belum siuman dari pingsannya. Tapi tak berapa lama kemudian Aldi pun akhirnya siuman.
“Aaahhh...” Kata Aldi masih dengan Nada yang lemas
“Aldi, sayang. Kamu sudah sadar, nak?” Tanya Papanya.
“Pa, ini jam berapa?” Tanya Aldi
“Sekarang sudah jam 2 siang, sayang” Jawab Papanya.
“Jam 2 siang, pa?? Kok papa gak bangunin Aldi sih. Biasanya juga kalau Aldi telat sedikit Papa langsung teriakin Aldi. Terus kok ada selang infus nempel di tangan Aldi sih, pa. Ini juga selang pernafasan kok nempel di hidung Aldi sih, pa” Kata Aldi dengan panik.
“Aldi...Aldi....sudah, nak. Kamu jangan panik dulu ya, nak. Kondisi kamu sudah sangat drop sekali. Kamu sakit typus dan magh kronis, sayang” kata Papanya
“Apa, pa? Typus sama magh kronis, pa?” Tanya Aldi
“Iya, sayang. Sekarang makan dulu, ya” Kata Papanya
“Tapi, pa. Sekolahku gimana? Terus les sama syutingku gimana?” Tanya Aldi
“Tadi dokter ngasih surat supaya kamu bisa istirahat di rumah selama 1 bulan. Papa juga akan ngurangin jadwal – jadwal kamu” Kata Papanya.
“Papa gak marah?” Tanya Aldi
“Gak, sayang. Papa minta maaf, ya. Gara – gara papa kamu jadi sakit” Kata Papanya.
“Papa gak usah minta maaf sama Aldi. Dari dulu semua kesalahan papa ke Aldi udah Aldi maafin” Kata Aldi
“Sekarang makan dulu, ya” Kata Papanya.
“Iya, pa” Kata Aldi

Papanya pun bergegas pergi ke dapur untuk mengambilkan bubur, teh anger, air putih, dan juga obat untuk Aldi.
“Aldi, sayang minum teh anget dulu ya, nak. Biar badan kamu agak angetan” Kata papanya, sambil membantu Aldi untuk minum.
“Sedikit dulu ya, pa” Kata Aldi
“Ya, sedikit dulu gak papa. Tapi nanti dihabiskan” Kata papanya
“Iya, pa” Kata Aldi
“Nah, sekarang kamu makan bubur, ya” Kata papanya sambil nyuapin Aldi
“Pait, pa” Kata Aldi mengeluh
“Dipaksain aja ya, sayang. Nanti kalau gak dipaksain kamu gak bakal sembuh – sembuh” Kata Papanya
“Kebiasaan Aldi dari kecil memang begini. Setiap kali sakit pasti manjanya keluar” Batin Papanya sambil tersenyum memandang Aldi
“Pa, udah” Kata Aldi
“Tanggung, Aldi. 2 suap lagi” Kata Papanya
“Tapi....” Kata Aldi mengeluh
“Mau sembuh gak” Kata Papanya
“Iya deh, pa” Kata Aldi
“Nah gitu donk dihabiskan. Sekarang minum obat, ya” Kata Papanya ketika Aldi telah menghabiskan buburnya
“Iya, pa. Tapi banyak banget obatnya” Kata Aldi.
“Ya, wong kamu sakit typus sama magh kronis jelas aja obat kamu banyak” Kata Papanya
“Sedikit – sedikit ya, pa” Kata Aldi
“Nah gitu donk” Kata Papanya ketika Aldi telah selesai minum obat
“Sekarang tehnya kamu habiskan” Kata papanya
“Tapi pait, pa” Keluh Aldi
“Tadi apa yang papa bilang” Kata papanya
“Kalau mau sembuh harus dihabiskan” Kata Aldi
“Nah itu tahu. Sekarang habiskan” Kata papanya
“Iya, pa” Kata Aldi
“ Nah gitu donk” Kata papanya ketika Aldi menghabiskan tehnya
“Pa, tentang jadwal les aku gimana?” Tanya Aldi
“Papa terserah sama Aldi sendiri. Les apa yang mau dikurangi?” Tanya Papanya
“Aldi gak mau ngurangi lesnya. Tapi jamnya aja yang dikurangi. Kan kemaren – kemaren lesnya tiap hari. Tapi sekarang masing – masing lesnya seminggu sekali aja” Kata Aldi
“Ya sudah kalau Aldi maunya begitu. Terus syutingnya gimana. Mau kamu terusin apa nggak?” Tanya Papanya
“Kayaknya syuting sinetron yang ini udah sampe disini aja deh, pa. Nanti kalau ada tawaran lagi baru Aldi mau syuting lagi. Tapi gak lebih dari 3 jam ya, pa” Kata Aldi
“Kalau itu mau kamu ya sudah. Nanti papa telepon sutradaranya. Dan mungkin besok papa akan ke tempat les kamu” Kata papanya
“Dan sepertinya aku harus beliin BB baru untuk Aldi. Dulu HP nya pernah aku Sita dan aku gadaikan” batin Papanya
“Sekarang kamu istirahat ya, sayang” Kata papanya
“Iya, pa. Makasih ya, pa” Kata Aldi
“Makasih untuk apa, sayang?” Tanya Papanya
“Hari ini papa udah ngerawat Aldi dengan penuh kasih sayang” Kata Aldi
“Sama – sama, sayang” Kata papanya

     Papanya pun menunggui Aldi sampai Aldi benar – benar tertidur. Dan setelah itu papanya membereskan peralatan makan yang tadi dipakai, lalu pergi ke dapur untuk mencucinya. Dan setelah itu papanya menghubungi Sutradara.

--Via Telepon--

“Halo, pak sutradara” Kata Papanya
“Ya, ada apa” Kata Sutradara
“Begini pak, Aldi kan sekarang lagi sakit. Dia sudah drop sekali” Kata Papanya
“Jadi, dia gak bakalan syuting sampai benar – benar sembuh” Kata Sutradara
“Jadi, begini pa. Tadi Aldi bilang sama saya untuk syuting sinetrin kali ini, syutingnya cukup sampai kemarin. Dia gak bakal syuting lagi, kecuali ada tawaran baru itu juga dia maunya paling lama syuting hanya 3 jam” Kata Papanya
“Lho? Memangnya kenapa?” Tanya Sutradara
“Kasian anak saya, pak. Dia sudah sangat kecapekan sekali” Kata Papanya
“Ya sudah kalau gitu maunya. Saya tidak bisa memaksa” Kata Sutradara

     Setelah itu papanya pun pergi ke counter Blackberry untuk membelikan BB untuk Aldi. Dan setelah mendapatkannya papanya pun pulang. Dan langsung mengutak – atik BB yang akan dia kasih ke Aldi. Dan ia pun langsung meng – save nomor teman – temannya Aldi. Karena selama ini papanya menyimpan nomor teman – temannya Aldi di HP nya dan juga ia pun mengisikan pulsa sebesar Rp. 1.000.000,00 ke BB nya Aldi. Dan setelah itu BB nya pun di Changer. Dia pun berencana aka ngasih BB itu besok pagi.

     Papanya pun akan tidur dikamarnya Aldi bareng Aldi. Tapi papanya tidur dibawah yang di alaskan kasur yang di ambil dari kamar tamu. Supaya, jika nanti malam jika ada apa – apa sama Aldi, biar bisa langsung nenangin.

--Malam Hari—

    Papanya pun masih mengompres Aldi dengan telaten. Dan juga dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00, dan papanya pun langsung tidur ketika selesai mengompres Aldi. Tapi ketika jam menunjukkan pukul 24.00 ia pun terbangun ketika mendengar igauan Aldi. Tetapi dia langsung nenangin Aldi. Dan setelah Aldi tenang ia pun tidur kembali.

--Pagi Hari—

     Pagi harinya ketika jam sudah menunjukkan pukul 06.00 ayahnya sudah stand by untuk mengompres Aldi. Karena demamnya belum juga turun – turun.
“Oh iya. Sekarang kan tanggal 14 April. Hari ulang tahun Aldi. Kenapa aku bisa lupa, ya. Tapi untungnya kemaren aku udah beliin dia BB” Kata Papanya
“Pa...” Kata Aldi ketika bangun tidur
“Kamu udah bangun, sayang?” Tanya Papanya
“Udah, pa” Jawab Aldi
“Sayang, selamat ulang tahun ya, nak” Kata Papanya
“Ulang tahun? Emang sekarang tanggal berapa?” Tanya Aldi
“Sekarang tanggal 14 April, sayang. Hari ulang tahunmu” Jawab Papanya
“Hehe..Maap, pa. Aldi lupa” Kata Aldi
“Oh iya. Ini papa kasih Bb sebagai hadiah ulang tahun kamu. Papa udah save nomor teman – teman kamu. Papa juga udah isiin pulsa 1.000.000 ke BB kamu” Kata Papanya
“Papa kok bisa tahu nomor teman – teman Aldi? Darimana papa tahu?” Tanya Aldi
“Selama ini papa nyimpen nomor teman – teman kamu di HP papa” Jawab Papanya
“Apa pulsanya gak kebanyakan,pa?” Tanya Aldi
“Gak, sayang. Tapi, kalau pulsa kamu cepet abis papa akan benar – benar marah sama kamu” Jawab Papanya
“Makasih ya, pa” Kata Aldi
“Nah, sekarang makandulu, ya” Kata Papanya
“Tapi, dikit aja ya, pa” Kata Aldi
“Iya. Papa ambil bubur dulu, ya” Kata Papanya
“Iya” Jawab Aldi

    Papanya pun langsung bergegas mrngambil bubur, teh anget, air putih, dan juga obat untuk Aldi. Dan setelah itu papanya pun kembali ke kamar Aldi untuk menyuapi Aldi.
“Sayang, teh angetnya di minum dulu, ya” Kata Papanya
“Tapi, kan pait, pa” Kata Aldi
“Kemarin papa ngomong apa, hayoo” Kata Papanya
“Kalau mau sembuh harus dipaksain dan dihabiskan” Kata Aldi
“Nah, sekarang ayo diminum” Kata Papanya
“Sedikit aja, ya, pa” Kata Aldi
“Tapi nanti dihabiskan” Kata Papanya
“Iya” Kata Aldi
“Sekarang buburnya dimakan, ya. Papa yang suapin. Kalau gak disuapin kamu gak bakalan mau makan” Kata Papanya yang langsung menyuapi Aldi
“Pa...” Panggil Aldi
“Kenapa? Pait?” Tanya Papanya
“Iya” Jawab Aldi
“Dipaksain aja ya, sayang” Kata Papanya
“Iya deh, pa” Kata Aldi
“Nah gitu donk, di. Kalau kayak gini terus kamu kan bisa langsung sembuh”kata Papanya ketika Aldi menghabiskan buburnya“Sekarang obatnya di minum, ya” Kata Papanya
“Iya. Tapi sedikit – sedikit ya, pa” Kata Aldi
“Iya. Habis ini tehnya di habiskan, ya” Kata Papanya
“”Iya” Kata Aldi
“Nah gitu donk” Kata Papanya ketika Aldi selesai minum obat
“Tehnya sekarang habiskan” Kata Papanya
“Sekarang kamu nggak boleh telat makan ya, sayang. Dokter udah memfonis kamu sakit magh kronis” Kata Papanya
“Iya. Pa, udah” Kata Aldi
“Sekarang di pakai untuk istirahat aja, ya” Kata Papanya

--Via SMS—
“Bang Kiki.... Anak – anak Coboy Junior lagi pada latihan gak” Aldi
“Maaf ya. Tapi ini siapa?” Kiki
“Hehe... Maaf, bang. Ini aku Aldi, bang” Aldi
“Oh, Aldi. Gimana kabarmu. Udah mendingan” Kiki
“Udah mendingan, bang daripada yang kemaren. Kok bang Kiki tahu kalau aku lagi sakit” Aldi
“Papa kamu yang kasih tahu, di” Kiki
“Anak – anak Coboy Junior lagi pada latihan gak, bang?” Aldi
“Gak” Kiki
“Lho? Emangnya kenapa?” Aldi
“Sekarang kan lagi jam sekolah, Aldi” Kiki
“Hehe... Maap, bang. Aldi lupa” Kiki
“Kamu ini... Sakit – sakit malah tambah pikun” Kiki
“Maap, bang. Terus kemaren – kemaren pada latihan gak?” Aldi
“Gak. Abang kasihan, di sama kamu. Jadi kita break latihan sama performance dulu demi kamu” Kiki
“Kok kasihan sama Aldi sih, bang. Kalau mau latihan sama performance tanpa Aldi juga gak papa” Aldi
“Gak. Abang gak tega sama kamu” Kiki
“Ya udah deh terserah abang” Aldi
“Di, nanti Abang, Iqbal, dan Bastian pulang sekolah mau jenguk kamu. Gak papa, kan?” Kiki
“Gak papa lah, bang. Masa sih Aldi harus ngelarang” Aldi
“Udah dulu ya, di. Abang udah mulai jam pelajaran pertama nih.” Kiki
“Ok, bang” Aldi

     Sambil menunggu Kiki, Iqbal, dan Bastian datang kerumahnya Aldi hanya bisa main HP saja. Dan juga gak lupa tentunya dia makan dan minum obat.
Dan ketika mereka sudah datang, kamar Aldi pun jadi rame.
“ALDI........” Teriak Iqbal dan Bastian
“Apa lu, kecoa. Eh kecoa” Latah Aldi
“Aldi, Aldi. Latahnya masih tetep aja” Kata Kiki
“Gak bisa di ilangin, bang” Kata Aldi
“Gigit lidah kamu selama mungkin. Insya Alldah latah kamu ilang” Kata Kiki
“Beneran, bang” Kata Aldi
“Insya Allah, di” Kata Kiki

Dan kemudian Aldi pun mempraktekkan apa yang di bilang oleh Kiki supaya tidak latah lagi.
“Kacang Mahal” Teriak Iqbal dan Bastian
“Apaan sih. Berisik tahu” Marah Aldi
“Ciyee yang marah” Teriak Aldi
“Ciyee yang udah nggak latah lagi” Teriak Iqbal
“Kamu udah nggak latah, di” Kata Kiki
“Alhamdulillah, bang” Kata Aldi
“Kan bener yang abang kasih tahu. Coba kamu praktekin dari dulu – dulu” Kata Kiki
“Iya. Makasih, bang” Kata Aldi
“Aldi...” Kata Bastian
“Apa?” Kata Aldi jutek
“Jutek banget sih, di” Kata Iqbal
“Iya. Apaan” Kata Aldi
“Kita kan tamu” Kata Bastian
“Terus” Kata Aldi
“Gak di sediain minuman sama makanan” Kata Bastian
“Ambil aja sendiri. Aku masih gak kuat untuk jalan” Kata Aldi
“Iya...” Teriak Bastian
“berisik. Ini bukan hutan” Kata Aldi

     Keramaian itu pun tak terhindarkan ketika mereka berkumpul. Setelah hampir 1 bulan Aldi di rawat di rumah akhirnya ia pun sembuh. Tapi belum sembuh total. Papanya hanya mengizinkan Aldi untuk sekolah saja. Ayahnya tidak mengizinkan Aldi untuk les, latihan, dan juga performance bareng Coboy Junior. Tetapi kalau Aldi sudah sembuh total baru di izinkan les, latihan, dan juga performance bareng Coboy Junior. Dan akhirnya Aldi pun senang karena papanya sudah berubah seperti dulu lagi.

--The End--
Post a Comment