Thursday, January 3, 2013

Berita Lengkap BMW X5 menabrak DAIHATSU LUXIO, 2 orang meninggal dunia


          Selasa, 1 Januari 2012, terdengar berita duka dari keluarga besan Bapak Presiden kita, Bapak Hatta Rajasa. Anak bungsunya, M. Rasyid Amirulloh Rajasa (22 tahun) menabrak sebuah mobil Luxio yang dikendarai oleh Frans Joner Sirait (37 tahun) di KM 3.5 Tol Jagorawi.

Sebuah mobil BMW jenis SUV dengan nomor polisi B 272 HR terlibat insiden kecelakaan dengan mobil Daihatsu Luxio dengan nomor polisi F 1622 CY. Dua orang tewas dalam peristiwa tersebut. Winda, salah seorang petugas call center Jasa Marga, mengatakan, kecelakaan tersebut terjadi pukul 05.45 WIB. 
"Benar, kronologisnya mobil BMW menabrak mobil Luxio di lajur dua hingga bahu jalan," ujar Winda saat dihubungi Kompas.com, Selasa (1/12/2012) pagi. 
 Menurut informasi yang dihimpun Jasa Marga, korban tewas bernama Harun (60 tahun) dan Reyhan (14 bulan). Keduanya merupakan penumpang mobil Daihatsu Luxio. Kini, jenazah korban telah disemayamkan di Serang (Harun) dan Sukabumi (Reyhan) setelah sempat dibawa ke Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto untuk disemayamkan. Pihak kepolisian telah memberitahu pihak keluarga perihal kecelakaan itu. 

Wasta mengatakan, pengemudi yang menabrak bernama Rasid Amrulloh ketika itu hanya mengendarai mobilnya seorang diri. Sang pengemudi kini juga telah diamankan aparat kepolisian ke Subdit Gakkum Pancoran, Polda Metro Jaya.

 "Sudah langsung dibawa polisi. Dia sendirian di mobil BMW itu. Pengemudi juga tidak mengalami luka apa pun," katanya.
 Kepala Patroli Jalan Raya Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar M Jazari mengatakan bahwa pihaknya sudah dari tadi pagi melakukan olah TKP. Namun, olah TKP ditangani langsung oleh Subdit Gakkum Polda Metro Jaya unit kecelakaan lalu lintas.
"Kalau mau informasi lebih jelas silakan tanya ke bagian laka lantas," ujarnya.
Hasil pemeriksaan awal terhadap para saksi dan penelitian di lokasi kejadian, kecelakaan terjadi akibat pengemudi BMW, yang mobilnya melaju dari arah utara ke selatan di lajur 3, mengantuk. Lalu mobilnya menabrak Daihatsu Luxio dari belakang hingga pintu bagian belakang mobil tersebut terbuka.

Dua korban tewas dalam kecelakaan itu adalah Harun (57), warga Jalan Semangka 1 nomor 99, Cibodas Sari, Tangerang dan M Raihan (14 bulan), warga Kampung Ciaul RT 8/2 Mekarjaya, Sukabumi. Tiga orang yang luka-luka dan dibawa ke RS Polri adalah Nung (30 tahun) dan Moh Rifan (8 tahun). Seorang lagi dibawa ke RS UKI yakni Supriyati (30 tahun).

Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, M Rasid Amirulloh pun telah menjalani tes urin.
"Tes urin dilakukan di Rumah Sakit Kramat Jati," kata Rikwanto saat dihubungi.
Dalam mobil BMW naas tersebut, kata Rikwanto, tidak ditemukan benda mencurigakan seperti alkohol atau obat terlarang. 
"Mobil sedang diperiksa tapi sejauh ini tidak ada benda mencurigakan di dalamnya," katanya.

"Hatta, istri dan keluarga sangat berduka dengan musibah ini. Keluarga Hatta Rajasa menyampaikan simpati yang sangat mendalam untuk para korban dan keluarganya, baik yang terluka maupun meninggal," kata Wakil Ketua Umum PAN Dradjad Wibowo mewakili keluarga Hatta Rajasa ketika dihubungi Kompas, Selasa (1/1/2013) malam.
Ia menambahkan, sekarang keluarga Hatta fokus pada dua hal. Pertama, mereka akan membantu para korban dan keluarganya terkait dengan semua hal yangg dibutuhkan. Saat ini sudah ada utusan keluarga yang manangani hal tersebut.
"Kedua, keluarga Hatta merawat Rasyid. Rasyid mengalami benturan di kepala dan sempat muntah. Pada saatnya nanti Hatta akan menemui korban dan keluarga. Mengenai apa yang terjadi, diserahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang, yaitu kepolisian, tanpa intervensi dari siapapun. Atas nama keluarga besar PAN, saya menyampaikan simpati beserta doa semoga kesemuanya diberi Allah ketabahan dan kemudahan dalam menghadapi musibah ini," kata Dradjad. 
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mewakili keluarga meminta maaf kepada seluruh keluarga korban kecelakaan yang melibatkan putranya, Muhammad Rasyid Amrullah Rajasa.
"Kami sekeluarga berbelasungkawa atas meninggalnya dua saudara tersebut. Atas keprihatinan yang dalam, kami menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya, yang kami tidak kehendaki sama sekali," ucap Hatta Rajasa, yang mengadakan konferensi pers di kediamannya di Fatmawati Golf Mansion, pukul 21.00, Selasa (1/1/2013).
Selain itu, ia juga menyatakan akan memberikan pertolongan kepada korban yang luka dan keluarga korban yang meninggal. Ia juga menyatakan keinginannya untuk hadir dan minta maaf secara langsung kepada keluarga korban.
"Saya sendiri ingin hadir dan minta maaf ke keluarga yang di Sukabumi dan Tangerang. Musibah ini kami terima dan sekali lagi saya pun mohon maaf atas kejadian ini," kata Hatta Rajasa.
Terlihat jelas Hatta Rajasa bersama istrinya mengalami kesedihan yang mendalam dan menyesali kecelakaan yang memakan 2 korban tewas dan 4 korban luka-luka ini.
"Sungguh saya merasa sedih dan kami akan memberikan perhatian yang sangat kepada korban," Hatta Rajasa menutup konferensi pers.
Kepala Subdirektorat Dirgakum Ditlantas Polda Metro Jaya Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi, Sudarmanto membenarkan bahwa kecelakaan maut tersebut akibat mobil Luxio ditabrak dari belakang oleh BMW yang dikemudikan oleh putra Menko Perekonomian Hatta Rajasa.
"Karena benturan yang kencang, pintu Luxio terbuka dan penumpang di dalamnya jatuh," jelas Sudarmanto di kantor Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (1/1/2013).
Sudarmanto menjelaskan, saat itu mobil Luxio berkendara dengan kecepatan 80 km/jam. Namun ia tak bersedia membeberkan kecepatan mobil BMW yang dikemudikan Rasyid. "Itu bisa Anda perkirakan sendiri," katanya singkat.
Lebih jauh Sudarmanto menjelaskan, polisi tengah mengumpulkan keterangan dari Frans selaku sopir Luxio. "Sementara itu para korban sudah dirawat di rumah sakit, sementara korban meninggal dunia diserahkan keluarga," katanya.Menurut Sudarmanto, Rasyid pun sudah menjalani pemeriksaan awal. "Namun sekarang ia masih dirawat di rumah sakit, karena masih dalam kondisi trauma dan ada benturan di kepala," jelas Sudarmanto.
Akan tetapi ia tak bersedia memberitahu letak rumah sakit tempat Rasyid dirawat. 


            Rasyid resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam peristiwa yang menyebabkan tewasnya dua penumpang Daihatsu Luxio F 1622 CY tersebut. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Rabu (2/1/2013) pukul 11.00 WIB.
"Yang bersangkutan sudah ditetapkan sebagai tersangka karena kelalaian dalam mengemudikan mobil hingga menyebabkan orang lain meninggal," ujar Kombes Rikwanto dalam jumpa pers yang digelar di Mapolda Metro Jaya.
Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, putra Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa itu tidak langsung ditahan.
"Karena Rasyid saat ini masih dalam perawatan di sebuah rumah sakit," kata Kombes Rikwanto.
"Mobil ini terakhir baru masuk sini sekitar pukul 02.00 WIB, pagi dini hari tadi. Karena ini kan mobilmatic, agak susah ngakalin-nya, jadi lama di TKP, masih di pinggir tol timur," kata seorang perwira polantas ketika ditemui di halaman parkir Subdit Gakum Ditlantas Polda Metro Jaya, di Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (2/1/2013).
              Perwira polisi tersebut menuturkan, petugas akhirnya mengakalinya dengan menggunakan cara menderek mobil dari bagian belakang, bukan pada bagian depan mobil.
"Bukan disembunyikan, siapa yang sembunyikan. Ini kan karena roda belakang tidak bisa gerak. Yang bisa muter kan cuma roda depannya, jadi ditarik dari bagian belakang," ujarnya.
              Pantauan Kompas.com, saat ini, kedua mobil, baik itu mobil BMW X5 maupun Daihatsu Luxio, sudah berada di halaman parkir Subdit Gakum Ditlantas Polda Metro Jaya, di Pancoran, Jakarta Selatan. Petugas menutup mobil BMW X5 yang dikemudikan Rasyid Rajasa itu dengan terpal warna abu-abu. Petugas melarang awak media untuk membuka terpal secara keseluruhan. Kedua mobil juga dililit dengan garis pembatas polisi dan dijadikan barang bukti.

           Sementara itu, salah satu keluarga korban diwakili oleh Suparman, menantu Harun. 
            "Tetap akan kami tuntut dia, harus kita tuntut itu. Kita tetap sesuai proses hukum," ujar Suparman (37) kepada wartawan di depan ruang jenazah RS Polri Bhayangkara Raden Said Sukanto, Jakarta Timur, Selasa sore.
           Namun, langkah hukum tegas tersebut, diakuinya, tidak akan dilakukannya secara tergesa-gesa. Ia akan melakukan komunikasi dengan keluarga lain.

            Menurut Suparman, sang bapak tewas dalam kondisi mengenaskan, yakni dengan luka pada bagian kepala sebelah kanan serta bagian wajah yang hancur. Meski demikian, ia memastikan bahwa jasad tersebut merupakan jasad Harun. Suparman menuturkan, dia baru mengetahui kabar duka tersebut pukul 11.30 WIB siang tadi setelah seorang dari empat anak Harun meneleponnya. Istrinya, Herni, anak Harun, pun langsung terguncang atas kabar duka itu. 
         "Percaya nggak percaya, istri saya langsung shock banget sampai pingsan dua kali. Akhirnya, saya saja perwakilan yang ke sini," lanjutnya.
          Harun, sehari-hari berprofesi sebagai sopir pribadi. Pada saat kejadian, pihak keluarga menduga Harun hendak menjemput bosnya yang berada di Puncak, tetapi tak menggunakan mobil pribadi sang bos, melainkan angkutan umum.
            Enung (34), ibu dari Muhammad Raihan (1,5), belum tahu anaknya menjadi korban tewas dalam kecelakaan maut antara BMW X5, yang dikemudikan Rasyid Rajasa, dan Daihatsu Luxio yang ditumpanginya, Selasa (1/1/2013) kemarin. Enung bersama putranya, Rifan (8), turut menjadi korban luka dari kecelakaan yang terjadi di Tol Jagorawi Km 3+350 itu. Ia masih dirawat di Rumah Sakit Polri Bhayangkara Raden Said Sukanto, Jakarta Timur. 
"Belum sampai ke situ. Supaya pasien tenang dulu, baru kita akan informasikan," ujar Dokter Yayok Ms. Spdk, Kepala Sub Pelayanan Medik RS Polri, kepada wartawan, Rabu (2/1/2013).
          Yayok mengungkapkan, sejak dibawa ke RS Polri, Selasa pagi, sesaat setelah kejadian, kedua korban dalam kondisi stabil meski mengalami sejumlah luka lecet dan benturan. Keduanya ditangani beberapa dokter, yakni dokter spesialis anak, dokter bedah, dan dokter saraf.
"Nyonya E kondisinya stabil, beberapa luka di tangan, dan mengeluh pusing. Kalau untuk R, penanganan sekarang luka, nanti komprehensif, termasuk psikolog," lanjutnya. 
             Atas keluhan tersebut, kedua pasien dilakukan serangkaian pemeriksaan mulai dari CT scan, pemeriksaan darah, dan pemeriksaan laboratorium. Hasil dari serangkaian pemeriksaan itu, lanjut Yayok, bisa diketahui tiga hingga empat hari ke depan. Hingga kini, Enung dan Rifan masih dirawat di Unit Cendrawasih RS Polri. Enung dirawat di ruangan 4, sementara Rifan dirawat di ruangan 6. Turut mendampingi sanak saudara dari Enung dan Rifan. Sementara Raihan telah dimakamkan di tempat pemakaman keluarga di kampung halamannya, Ciaul, Kababungan, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu pagi.
       "Saya sudah bertemu dan berbicara dengan semua keluarga Enung dan Eman (ibu dan ayah Raihan), mereka mau menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan dan musyawarah," ujar Sukardi (44), paman Raihan, saat dihubungi Rabu (2/1/2013). 
            Sukardi menjelaskan, alasan keluarga bersedia menempuh jalur damai karena menyadari bahawa tidak ada satu pun yang menghendaki kecelakaan tersebut terjadi. Pihak keluarga pun menganggap, kecelakaan maut itu merupakan musibah. Meski demikian, Sukardi berharap, pengemudi BMW, Rasyid Rajasa, yang merupakan putra Menko Perekonomian Hatta Rajasa, serius dalam menangani permasalahan ini. Pasalnya, meski utusan keluarga Rasyid Rajasa telah datang dan berbicara mengenai akan ditanggungnya biaya administrasi, hingga kini belum ada pembicaraan terkait besaran santunan. 
"Orangnya datang kemarin (Selasa), saya cuma sebentar di rumah sakit. Yang pasti mereka sudah meminta maaf dan bersedia menanggung semua biaya," lanjutnya. 
            Pascakejadian, Hatta menyatakan, keluarganya akan memberikan pertolongan kepada korban yang luka dan keluarga korban yang meninggal. Ia juga menyatakan keinginannya untuk hadir dan minta maaf secara langsung kepada keluarga korban.

   
          Rangga Nugraha, saksi yang mengaku membantu korban pada kejadian BMW M Rasyid Amirullah, anak Menko Perekonomian Hatta Rajasa, menabrak mobil Luxio di tol Jagorawi km 3,5, sempat menggendong Raihan, bayi yang akhirnya meninggal akibat kejadian maut tersebut.
Dalam kicuannya di twitter, (1:52 PM – 2 Jan 13 from Megamendung, Bogor seperti yang tercatat di timeline akun @Rga_Nugraha), Rangga menulis, “Dan innalillahi, cid. Lewat doi ternyata..(Alm.harun) . Bocah yg gue gendong jg lewat akhirnya (alm.raihan) :’( pray for them.”

  Sebelumnya muncul tudingan miring tentang Rangga di twitter dan dari pemberitaan detik.com. Sebagian menilai Rangga memang diskenariokan menjadi saksi yang meringankan Rasyid.

  Atas tudingan tersebut, Rangga menulis “Dear haters.. I’m just sayin a fact. Alhamdulillah belom ada orangnya HR dtg kesini ngeguyur gue pake duit #kode #sarcasm )))))” yang dikicaukan pada pukul 21:10, 2 Januari 201 dari Megamendung.
  Rangga juga menulis menanggapi komentar miring tentang dirinya menyusul pemberitaan detik.com.
  “Ok yg komentar negative di detikcom, gue gak kenal rasyid. Gak peduli jg dia anak siapa. Tp gue respek sm attitude&responsiblenya #sikap ” Pesan itu dia tulis pada 17:29  (2 Januari 2013).
  Tabrakan BMW yang dikemudikan Rasyid dengan Luxio menelan dua korban meninggal yaitu Harun, 57 tahun, dan Raihan yang masih berusia 14 bulan. Rasyid sendiri disebut-sebut mengalami trauma psikologis setelah kejadian tersebut.

         Rangga menjadi saksi yang mengevakuasi korban. Avanza yang dia pakai, pada Selasa (1/1) pagi sempat mengantarkan korban ke RS UKI Cawang. Dia mengaku niatannya membantu korban kecelakaan semata alasan kemanusiaan. Dia pun sempat merekam video kejadian itu selama beberapa menit.
              Saat ditemui detikcom pada Rabu (2/1/2013), di rumahnya di Mega Mendung, Puncak, Bogor, Rangga siap bersaksi ke polisi menceritakan kronologi peristiwa itu. Dia menegaskan dia hanya bermaksud membantu para korban dan tidak fokus pada sosok Rasyid. Lagi pula dia tidak tahu siapa Rasyid.
"Selama nggak ganggu jadwal saya, siap saja," jelas Rangga yang baru lulus dari Universitas Surabaya ini yang ditemani ibunya, Yuli. 
             Rangga tinggal bersama ayah dan ibunya. Dia anak kedua dari 4 bersaudara. Sebuah sedan BMW terparkir di rumahnya yang seperti vila. 
"Jangan juga kita sampai malah nanti keluar duit, bolak-balik diperiksa. Saya nggak mau repot, Mas," terang Rangga yang tinggal di Desa Sukaresmi ini.
Rangga yang berada 100 meter di belakang mobil Rasyid, langsung banting setir ke kiri, kemudian ke kanan dan berhenti di depan mobil Rasyid. Rangga melihat airbag di mobil Rasyid sudah terkembang. Rasyid dilihatnya langsung turun dari mobil.
"Rasyid cukup humble yah, dia turun dan langsung tarik semua yang ada di tengah jalan, 'Ayo kita ke rumah sakit dulu'. Saat itu ada 2 mobil berhenti, mobil saya yang berhenti dan Terrano hitam. Terrano hitam cuma jalan pelan dan cuma melihat dan tanya-tanya. Rasyid sendirian," jelas Rangga Nugraha saat dihubungi detikcom, Rabu (2/1/2012).
Rangga dan Rasyid yang turun kemudian saling membantu mengevakuasi korban. Ada sekitar 3-4 orang bergelimpangan di sana, seorang laki-laki paruh baya yang dilihatnya sudah tak bernyawa karena kondisi kepalanya sudah terbuka. Dan satu anak kecil yang belakangan diketahui bernama Raihan, saat itu masih bernafas.
Karena mobil Rasyid tak bisa jalan usai kecelakaan, Rangga sukarela mengantarkan korban-korban itu ke RS UKI. Setelah itu banyak kendaraan melalui lokasi kecelakaan pelan-pelan dan menyalahkan Rasyid.
"Dia cukup responsible, dia bilang 'Soal urusan polisi, nanti gue yang tanggung jawab, yang penting selametin dulu'" jelas Rangga.
Yang dia sayangkan, ambulans datang ke lokasi cukup lambat, sekitar 30 menit dari waktu kejadian.
"Sayangnya cuma 1 ambulans, tapi begitu petugas datang handelnya cepet sih nggak sampai 5 menit. 1 Ambulans dan 1 Mobil Jasa Marga," jelasnya.
Rangga kemudian meminta SIM Rasyid untuk jaminan di Rumah Sakit. Rangga kemudian mengevakuasi bocah Raihan yang tampak tak ada luka di luar, beserta topi boneka beruangnya. 
"Saya dropping ke RS UKI, saya bawa SIM-nya Rasyid, karena jujur untuk korban cover biaya karena biasanya diminta jaminan siapa yang bertanggung jawab di rumah sakit kan. Tapi karena petugas Jasa Marga ikut dan Jasa Marga ikut handle, saya balik (ke lokasi kecelakaan)," imbuhnya.
            Polisi memastikan bahwa dalam kasus kecelakaan maut antara BMW X5 dan Daihatsu Luxio di Tol Jagorawi pada Selasa (1/1/2013), sopir Daihatsu Luxio tidak melarikan diri.  
"Dari olah TKP, Mobil Luxio tersebut terseruduk dari belakang, goyang, pintunya terbuka, dan sempat menjauh sekitar 50 meter karena (sopir) harus menstabilkan dulu sebelum berhenti mendadak. Jika tidak, akan terguling," terang Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto, Kamis (3/1/2013).
Selain itu, Rikwanto juga menegaskan bahwa tidak ada saksi yang bernama Rangga Nugraha dalam kasus kecelakaan tersebut. 
"Yang bilang dia (Rangga) saksi siapa? Yang bilang kan dia sendiri. Nanti saya bikin Twitter juga, saya ngarang sendiri," sanggah Rikwanto. 
Rangga Nugraha dalam keterangannya di sebuah media online mengaku menolong korban dan membawa dengan mobilnya ke RS UKI. Rangga diyakini sebagai saksi kunci berdasarkan "kicauannya" di Twitter. 

Lebih lanjut, Rikwanto mengatakan bahwa media jangan terpengaruh dengan isu-isu yang beredar sebelum mengecek kebenarannya. 
"Jangan terpengaruh ya dengan yang begini (kesaksian Rangga). Kok dia seolah-olah lebih tahu dari polisi. Kenapa dia enggak datang ke pos polisi aja," kata Rikwanto. 
Sejauh ini, polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap 14 orang, yang terdiri dari 1 tersangka dan 13 saksi. Tersangka ialah Rasyid sendiri, sementara para saksi terdiri dari: 
1. Frans Jonar Sirait (sopir Daihatsu Luxio). 
2. Enung (korban luka-luka). 
3. Supriyati (korban luka-luka). 
4. Eman (suami Enung). 
5. Prilla Kinarti (pacar Rasyid). 
6. Ipda Suhadi (anggota Polres Jakut, yang kebetulan lewat saat kejadian). 
7. Bripka Cahyadi (anggota PJR). 
8. Brigadir Dedi (anggota PJR). 
9. Aiptu Endang (anggota Laka Lantas Polres Jaktim). 
10. Unggul (petugas Jasa Marga). 
11. Komang (petugas jalan tol). 
12. Momon (petugas mobil derek). 
13. Ny Harun (istri salah satu korban meninggal, Harun). 

Menurut penjelasan Rikwanto, tidak lama setelah kejadian, Rasyid dan Frans keluar dari mobil dan saling membantu menyelamatkan para korban, kemudian datang Ipda Suhadi yang kebetulan melintas. Ipda Suhadi kemudian menghubungi petugas PJR (Bripka Cahyadi dan Brigadir Dedi) serta anggota Polres Jaktim Aiptu Endang. Selanjutnya, para pihak keamanan yang dihubungi tersebut tiba dengan disertai mobil derek dan ambulans.

Keberadaan Muhammad Rasyid Amrullah (22), yang mengalami kecelakaan pada Selasa (1/1/2013) pukul 05.45 WIB, sebelumnya tak diketahui publik. Pasalnya, saat menggelar jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Rabu (2/1/2013) pukul 11.00 WIB, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan, Rasyid tengah dirawat di sebuah rumah sakit, tetapi dia tidak menyebutkan rumah sakit yang dimaksud.

Baru pada Rabu sore, keberadaan putra bungsu Menko Perekonomian Hatta Rajasa itu diketahui, yaitu tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat Pertamina. Hal ini dibenarkan oleh dr Indra Maulana, Kepala Administrasi Medis RSPP, Rabu sore (2/1/2013).
"Benar, anak dari Bapak Hatta Rajasa dirawat di rumah sakit ini," kata dr. Indra Maulana.
Mengenai kondisi Rasyid, dr. Maulana mengatakan, luka yang dialami Rasyid baik dan kondisinya stabil. Sejak Senin kemarin, kata dr Maulana, Rasyid dirawat di ruang President Suite RSUP Pertamina.
Mengenai spesifikasi lukanya, pihak rumah sakit tidak dapat memberi tahu. "Untuk masalah medisnya, kami tidak bisa menjelaskan lebih lanjut karena permintaan dari keluarga pasien dan rahasia medis," kata Maulana.
 Rasyid diketahui tidak dirawat di Rumah Sakit Polri, Jakarta Timur. Padahal, dalam kasus kecelakaan sebelumnya, seorang tersangka yang juga mengalami luka pasti menjalani pemeriksaan dan perawatan medis di RS Polri untuk proses hukum lebih lanjut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar mengaku belum mengetahui pasti mengapa anak bungsu Menteri Koordinator Perekonomian RI Hatta Rajasa itu tidak dirawat di RS Polri. Menurutnya, meski tidak dirawat di RS Polri, penyidikan terhadap Rasyid tetap berjalan.
"Nanti kita lihat, kita cari tahu, yang jelas dalam pengawasan penyidik," terang Boy di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (2/1/2013).
Boy membantah adanya spesialisasi penanganan kasus anak pejabat tersebut. Kini, Rasyid diketahui sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, dan menempati ruang President Suite.
"Kita tunggu progres penanganan selanjutnya seperti apa karena yang mengalami sakit dalam perawatan, pengemudi juga dalam perawatan di rumah sakit, tapi proses penyidikan berjalan," tambah Boy.
Untuk diketahui sebelumnya, ada beberapa kasus kecelakaan maut lainnya pernah terjadi, antara lain sopir Xenia maut Afriyani, model seksi Novi Amelia, dan pengemudi Livina maut Andhika. Dalam ketiga kasus menghebohkan itu, setelah ditetapkan pihak kepolisian sebagai tersangka, ketiga orang tersebut sempat menjalani pemeriksaan dan perawatan medis di RS Polri agar dapat diperiksa lebih lanjut secara hukum.

Dokter Muhammad Yayok MS Spdk, Kepala Sub Pelayanan Medis Rumah Sakit Polri Bhayangkara Raden Said Sukanto, pun ikut membenarkan bahwa RS Polri menjadi rumah sakit rujukan bagi tersangka yang mengalami gangguan medis. "Yang bersangkutan sakit nggak? Kalau sakit ya seharusnya dirawat," ujar Yayok.

Rasyid pun baru ditetapkan menjadi tersangka atas kasus kecelakaan maut di Tol Jagorawi yang merenggut dua nyawa itu, satu hari setelah kecelakaan terjadi. Terkait penetapan tersangka yang terkesan terlambat, Boy kembali membantah polisi melakukan spesialisasi terhadap putra besan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono itu
"Mungkin ada masalah komunikasi saja. Tapi, semuanya secara transparan,” ujar Boy.
Pemeriksaan sementara, kecelakaan terjadi karena Rasyid yang baru pulang dari merayakan tahun baru itu mengantuk. Mobilnya melaju kencang dan menabrak Daihatsu Luxio dari belakang sehingga penumpang mobil Daihatsu pun terpental ke luar jalan.

Perkembangan kondisi kesehatan Rasyid yang dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan, dalam kondisi cukup stabil. Namun, akibat kecelakaan tersebut Rasyid mengalami trauma psikis.
Dr. Endah Ronawulan, psikiater kesehatan jiwa yang menangani Rasyid, mengatakan, kondisi Rasyid saat ini tengah mengalami trauma psikis yang menurut dia bisa terjadi kepada seseorang pascamengalami suatu peristiwa.
"Hal ini bisa terjadi kepada setiap orang yang menyaksikan atau mengalami trauma psikologis. Pasien ini kesulitan makan atau tidur. Hal ini biasa terjadi pada usia 20 tahun menuju dewasa. Dia mengalami ketakutan," kata Endah, dalam konferensi pers, di gedung Graha RSPP, lantai 8, Jakarta Selatan, Kamis (3/1/2013) pagi.
Kondisi yang menimpa Rasyid, menurut dia, sedang memerlukan perawatan. Rasyid dikatakannya tengah mengalami ketakutan dan tengah memikirkan mengenai masa depannya. Hal ini diduga berkaitan dengan kasus kecelakaan yang mengakibatkan dua orang tewas serta proses hukum yang akan ditempuh Rasyid dalam kasus kecelakaan yang melibatkannya. Saat ini, polisi sudah menetapkan Rasyid sebagai tersangka kasus kecelakaan itu.
"Ini ketakutan kecemasan akan masa depan. Beliau sedang sekolah, sedang ujian, sedang kebingungan anaknya," ujar Endah.
Sementara itu, Abdul Haris Tri Prasetya, dokter spesialis penyakit dalam RSPP, mengatakan, ia menangani Rasyid dengan beberapa jenis keluhan sakit. 
"Saya merawat Rasyid, dengan keluhan nyeri di perut, mual, muntah, sakit kepala, dan kita dapatkan dengan kondisi badan yang lemah. Ada gangguan pencernaan pada bagian atas," jelas Haris.
Dirawatnya Rasyid Amrullah Rajasa di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) menimbulkan kesan adanya perlakuan istimewa. Mengapa putra bungsu Hatta Rajasa tersebut tidak dirawat di RS Polri? 

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto menyatakan, meski Rasyid dirawat di RSPP, hal tersebut bukan sebagai bentuk pilih kasih atau mengistimewakan. 
"Masalah dirawat di RS Polri itu bukanlah soal harus atau tidak karena yang dipentingkan adalah keselamatan dari pihak terkait," kata Rikwanto, Kamis (3/1/2013). 
Ia juga menjelaskan bahwa Rasyid bukanlah satu-satunya tersangka yang tidak dirawat di RS Polri. "Dulu tersangka kasus penipuan pingsan saat diinterogasi dan dia dibawa ke RS Dharmais," kata Rikwanto. 

Rikwanto juga menjelaskan bahwa penjemputan terhadap Rasyid akan dilakukan setelah pihak rumah sakit memberikan pernyataan kondisi Rasyid. Setelah itu, baru akan dijemput pihak kepolisian.




Yaps. Sekian dulu update dari saya. Informasi di blog ini akan terus di-update. Kalian bisa comment, liat atau share. Ini sudah dilengkapi dari semua artikel yang berasal dari www.detik.comwww.kompas.co.idwww.google.comwww.,tempo.co.id.





Post a Comment