Friday, January 30, 2015

Indonesia Menuju Frankfurt Book Fair 2015

Hai kawan!

Apakabar?

Pada tanggal 29 Januari 2014 kemarin, aku berpetualang ke Goethe-Institute Jakarta, kepo sama perpustakaannya sekaligus ada acara menarik disana bernama #KamisLiterasi

Apa sih #KamisLiterasi?
Kamis literasi adalah forum dimana kita dapat berdiskusi dan menimba ilmu sebanyak-banyak dengan cara ngepoin orang-orang yang ahli di bidang kepenulisan di tanah air kita yang tercinta ini.

Siapa sih yang bikin #KamisLiterasi?
Kamis Literasi diadakan oleh NyonyaBuku

Kapan #KamisLiterasi diadakan?
Acara ini diadakan tiap bulan hari kamis minggu terakhir, jadi pantengin terus twitternya mereka ya guys!

Oke jadi acara #KamisLiterasi ini bertepatan dengan #LiteraryDay, dan tema acara kemarin adalah PENULIS (PEREMPUAN)INDONESIA DI PENTAS DUNIA

Pembicaranya ada tiga orang yaitu Okky Madasari (Penulis yang 3 dari 4 bukunya sudah di cetak versi bahasa inggrisnya, yang satu lagi lagi tahap penerjemahan), Salman Faridi (CEO PT Bentang Pustaka) dan Anton Kurnia (Penulis dan penerjemah di Penerbit Serambi). Acara ini dimulai pukul 16.25 dengan moderator Mbak uswa (kalau ga salah hehe)



Menurut Mbak Okky, tidak hanya penulis yang dibutuhkan agar literatur Indonesia dikenal dunia, tapi juga dukungan dari pemerintah kita yang tercinta ini, karena dengan makin dikenalnya kebudayaan Indonesia dapat menaikkan ekonomi negara kita juga.

Sebuah karya sastra pasti memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan mengendalikan pikiran pembacanya. Maka dari itu Amerika, Eropa, Rusia, Jepang hingga China dikirim ke berbagai negara dengan berbagai cara, mulai dari penjajahan, diplomasi budaya, perdagangan dan lainnya.

Tahun ini adalah tahun kedua, Tante Okky dan teman-teman membuat sebuah acara literasi se-Asia Tenggara, ASEAN LITERARY FESTIVAL. Acara ini akan diadakan pada tanggal 15-22 Maret 2015 di Taman Ismail Marzuki. Nah masing-masing negara di Asia Tenggara tentunya diharapkan mengirim delegasinya, namun ada dua negara yang tidak mengirim yaitu Laos dan Timur Leste yang tidak dapat mengirim delegasi karena tidak memiliki anggaran. Indonesia sendiri juga termasuk negara yang pelit dalam memberikan dukungan, pemerintah lebih suka ngasih duit ke pejabat buat study banding ke luar negeri daripada memberi jalan buat karya sastra Indonesia menuju pasar dunia padahal saat ini negara-negara Asia sedang "in" karena majunya berbagai budaya di China, India, Korea Selatan dan Jepang pastinya.

"Orang-orang yang bekerja di bidang IT sangat mempermudah penulis Indonesia untuk menerobos wilayah dan batasan di Indonesia" -Okky Mandasari 

Sementara menurut Om Salman, menerjemahkan buku Indonesia itu cukup sulit dari segi melakukannya dan biayanya. Bahkan untuk novel Laskar Pelangi dibutuhkan waktu + 1 tahun dan revisi ketiga sampai dapat terjemahan yang bener-bener cocok. Belum lagi untuk menerbitkan buku di luar negeri itu, kita masih kesulitan mencari agennya.

Jadi kalau di Indonesia penulis bisa langsung menghadap penerbit terus nunggu 1 sampai 3 bulan bakal dapet dua pilihan diterbitin atau kudu nyari penerbit lain. Nah kalau di luar negeri sana penulis harus memiliki agensi buat meneruskan naskah ke penerbit, jadi penerbit hanya menyeleksi tulisan-tulisan yang diberikan oleh agen buat diterbitkan dan pastinya beredar di toko buku. Sehingga menerjemahkan sebuah buku Indonesia ke bahasa asing bisa seharga dengan menerbitkan buku dengan bahasa Indonesia sendiri.

Puluhan tahun Indonesia mengadakan beasiswa darmasiswa yang mengizinkan mahasiswa asing belajar bahasa Indonesia di universitas-universitas terkemuka di negeri ini, namun tidak ada usaha menjadikan mereka sebagai penerjemah untuk para penulis kita padahal para penulis kita memiliki banyak potensi di luar sana.

Menurut Om Anton, buat nyari penerjemah itu cukup sulit, karena yang dibutuhin ga cuma skill nerjemahinnya tapi bisa ngebawa suasana yang sama di kedua bukunya nanti. Padahal di masa lalu penulis kita seperti Raden Ajeng Kartini bahkan menulis bukunya dengan bahasa Belanda.
"Buku di Indonesia itu hanya 3% terjemahan dan 97% Bahasa Indonesia" -Anton Kurnia 
Untuk upah sendiri sebenarnya cukup menjanjikan karena biaya penerjemahan Indonesia ke Inggris minimal Rp 150.000/lembar belum lagi kalau Indonesia ke Jerman bisa lebih dari Rp 450.000/lembar bahkan. Memang sih terlihat mahal, namun menurut saya sendiri hasilnya worth it karena dengan begitu buku-buku kita bisa dikenal dan menjadi ilmu di negara lain. Sampai saat ini pusat sastra dunia adalah di Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa.

Tenang guys, kita ga jelek semuanya kok, ada empat buku sastra kita yang termasuk 75 terjemahan terbaik selama 2014 oleh majalah World Literature Today yaitu Anxiety Myths (Afrizal Malna;Andy Fuller), The Rainbow Troops (Andrea Hirata;Angie Killbane), Krakatau: The Tale of Lampung Submerged (Muhammad Saleh;John H. McGlynn) dan Lies, Loss, and Longing (Putu Oka Sukanta;Vern Cork dan Leslie Dwyer).
Jadi sebenernya penulis atau sastrawan ini sebagai penanya yang mempermudah kita menggenggam saat menulis, nah tugas negara seperti tinta pena tersebut untuk memperjelas tulisan di kertas yang putih. Tentu perlu ada komitmen antara keduanya agar mempermudah jalan sastra kita di dunia, belum lagi bentar lagi kita akan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015(MEA 2015) yang pastinya bakal membawa pengaruh positif dan negatif bagi Indonesia.

Buat kalian yang mau nulis tapi belum tau diterbitin dimana, ada yang namanya self-publishing, jadi kamu bisa nyetak dan ngedarin sendiri bukumu sesuai pesanan :) Untuk yang mencari buku sastra biasanya ada di toko buku online, karena yang di toko buku kebanyakan berdasarkan buku yang lagi laku.



Tunggu lanjutan postingannya ya! Launching idwriters.com :)
Makanya update di twitter saya @BlueRanisa.

Bye Fellas!

Post a Comment